Thursday, April 9, 2015

Kemerdekaan Palestina Untuk Kemanusiaan Yang Setara, Adil Dan Damai



Catatan pasca Sidang Dewan Gereja-Gereja Sedunia 2013

Mengawali ulasan tentang  seruan perdamaian yang dirindukan oleh saudara-saudari kita di Palestina, maka memang pantas terlontar pertanyaan selidik mengapa itu harus dilakukan? Bukankah Israel adalah bangsa yang banyak dibicarakan dalam alkitab umat Kristen sebagai bangsa pilihan dan diberkati?
Banyak lagi pertanyaan yang seolah melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh Negara Israel terhadap Palestina. Tulisan kecil saya ini cukup lama tersimpan dalam laptop sejak saya kembali dari sidang Gereja-gereja sedunia di Busan Korea Selatan akhir tahun 2013 tahun yang lalu. Tetapi akhirnya saya merasa semua orang perlu membacanya untuk mendapatkan perspektif berbeda dan mungkin sebagai bahan awal untuk mendalami pertikaian abadi di tempat kelahiran Yesus yang membawah damai itu.
Sesungguhnya, masalah yang dihadapi oleh bangsa Palestina bukan semata-mata penderitaan agama tertentu, tetapi penderitaan umat manusia yang didalamnya juga termasuk umat Kristen yang ada di Palestina. Mereka menderita atas kesetaraan, keadilan dan perdamaian  yang dirampas. Sebagai warga gereja, bukan karena di Palestina ada umat Kristen yang menderita sehingga itu patut menjadi perhatiannya. Tetapi, sekali lagi ini demi kemanusiaan dan kemuliaan Allah yang ada dalam diri manusia.  Tentu saja sebagai mahasiswa, sebagai warga gereja, dan sebagai umat manusia harus menempatkan masalah ini sebagai perhatian Gereja kedepan demi nilai kemanusiaan kita semua. Nilai kemanusiaan itu menembus batas-batas kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan seluruh dimensi kehidupan yang memang dikaruniakan Tuhan beragam.
Berangkat dari dokumen Kairos yang diterbitkan secara bersama oleh gereja-gereja di Palestina, saya mencoba membagi informasi tentang apa dan bagaimana seharusnya kita sebagai bangsa yang merdeka sekaligus sebagai warga gereja membaca dan menempatkan masalah Palestina. Bagi saya, Ini penting karena setidaknya tiga alasan. Pertama, meluruskan pemahaman yang keliru oleh sebagian umat beragama di Indonesia seolah-olah perang di Palestina adalah perang agama. Kedua, meluruskan paham Teologi yang membenarkan pendudukan Israel di tanah Palestina. Ketiga, masalah Palestina telah menjadi klaim kebenaran dan komoditas politik kelompok tertentu di seluruh dunia. Penderitaan warga palestina berbanding lurus dengan keuntungan politik mereka. Semakin menderita rakyat Palestina atas pendudukan tersebut, semakin besar keuntungan politik yang diraih oleh kelompok ini.   
  
Fakta sesungguhnya di Palestina adalah hilangnya kesetaraan, keadilan, perdamaian dan harkat manusia. Sejauh ini, saat semua orang bicara perdamaian, maka sebaliknya yang terjadi di Palestina adalah pendudukan Israel di tanah warga Palestina yang sudah didiami turun temurun oleh mereka. Israel mendirikan tembok yang sangat tinggi dan menjadikan kota serta desa-desa di Palestina selayaknya sebuah penjara. Bahkan bangsa Palestina tidak bisa saling bertemu dengan saudara sebangsanya pada bagian lain negeri mereka yakni Gaza. Nander, seorang pemuda Kristen Palestina dalam perbincangan kami di stand World Student Christian Federation (WSCF) di General Assembly WCC November 2013 lalu mengungkapkan bahwa ia harus terbang ke Jordania,  ke Mesir lalu melewati terowongan bawah tanah untuk mencapai Gaza dan kalau masih hidup maka hanya Mujizat yang bisa mengantarkannya kembali ke Tepi Barat. Perlu diketahui,  wilayah Palestina setelah gerakan Zionis yang membangun Negara Israel tahun 1948 terbagi atas dua bagian. Bagian tersebut yakni “Tepi Barat“ atau West Bank dan “Gaza” yang secara geografis berbentuk enclave.  Untuk memudahkan membayangkan maka secara geografis seperti wilayah Oekusi di Nusa Tenggara Timur yang merupakan bagian dari Timor Leste.  Setiap hari warga Palestina yang akan bepergian ke kantor, sekolah, rumah sakit dan kemanapun harus melewati pos pemeriksaan militer Israel tanpa memandang kedudukan, agama, tingkat pendidikan dll. Kebanyakan warga Palestina masih tinggal di kamp pengungsian selama bertahun-tahun dari generasi ke generasi dalam situasi yang memprihatinkan tanpa kejelasan masa depan. Kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM di Palestina terus berlanjut meski sudah dilaporkan oleh banyak lembaga pemantau HAM. 
Dalam perspektif iman kristiani, umat Kristen percaya pada satu Tuhan pencipta manusia dan alam semesta. Iman Kristen menyakini benar bahwa Tuhan pencipta itu mengasihi setiap umat ciptaannya. Bahkan iman Kristen percaya bahwa manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Berangkat dari pengakuan iman tersebut, maka iman Kristen meyakini benar bahwa Manusia diciptakan untuk saling mengasihi satu dengan yang lain, bersama-sama  mendiami bumi tanpa konflik, tanpa peperangan termasuk pendudukan yang menindas manusia lain sebagaimana dialami warga Palestina. Dengan demikian, dasar teologi apapun yang seolah didasarkan pada Alkitab, iman atau sejarah yang melegitimasi pendudukan sesungguhnya jauh dari ajaran kristiani. Penggunaan kekerasan atas nama Tuhan yang maha suci telah mensubordinasi kemahakuasaan Tuhan untuk kepentingan manusia semata. Dari pemahaman iman tersebut maka sudah sepantasnya umat Kristen hadir dan berdiri bersama bagi setiap tindakan yang merusak kemanusiaan manusia yang segambar dan serupa dengan Allah.

Indonesia sebagai bangsa yang menggagas konferensi Asia-Afrika adalah bagian penting dari sejarah kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang berada dalam penjajahan. Artinya, mendorong penghentian penjajahan bahkan kemerdekaan Palestina adalah misi diplomatik Indonesia yang sangat penting dan berdasar.  Bangsa Indonesia juga meyakini benar melalui pembukaan konstitusinya menempatkan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Padas kop yang lebih sepesifik, Mahasiswa Kristen Indonesia adalah bagian penting dari Indonesia yang bertanggungjawab untuk tercapainya tujuan bernegaranya. Tanggungjawab itu adalah manifestasi dari imannya kepada Tuhan Yesus atas karunia Indonesia yang diberikan pada kita.

Tidak berimbangnya informasi dan begitu dekatnya Negara barat dengan Israel membuat seolah-olah perang di Palestina adalah upaya internasional (atau setidaknya bangsa Barat) untuk memerangi Umat Islam. Padahal yang menjadi korban dalam konteks Palestina bukan hanya umat muslim tetapi juga umat Kristiani dan sebagian umat Yahudi.  Ketimpangan informasi ini yang kemudian membuat isu ini sangat mudah digeser pada ranah politik untuk menggaet pemilih muslim termasuk di Indonesia. Menjadikan penderitaan warga Palestina sebagai branding untuk kepentingan politik kelompoknya atau bahkan mungkin melegitimasi kekerasan baru. Artinya semakin panjang dan semakin dalam penderitaan yang dialami oleh saudara-saudari kita di Palestina, semakin besar dan berkelanjutan pula keuntungan politik yang bisa diraih oleh kelompoknya. Sementara pada sisi lain, warga Palestina lebih membutuhkan kemerdekaan permanen dan berdiri setara dengan bangsa lain sehingga mimpi mereka suatu saat tidak perlu lagi bantuan dari masyarakat internasional karena mereka sudah bisa memenuhinya sendiri dengan damai. Pernyataan Dubes Palestina 25 Agustus 2013 dalam wawancara dengan media satuharapan.com cukup tegas menjelaskan situasi ini.

Dari refleksi diatas, maka dapat  penderitaan umat islam semata tetapi penderitaan umat manusia di Palestina termasuk umat Kristiani, Yahudi dan mungkin agama lainnya yang tidak ada penganutnya di Indonesia. Kedua, dalam perspektif iman kristiani, maka perang dan penggunaan kekerasan atas nama Tuhan yang maha suci telah mensubordinasi kemahakuasaan Tuhan sehingga tidak bisa dibenarkan atas dasar apapun. Penghargaan harkat manusia yang segambar dan serupa dengan Allah tidak bisa direduksi oleh pembenaran sejarah, teologi atau iman sekalipun. Ketiga, bahwa solidaritas yang dibutuhkan oleh Bangsa Palestina adalah solidaritas yang tulus benar-benar untuk pembebasan atas belenggu yang mereka alami selama ini. Kampanye dan penggalangan bantuan darurat atas tragedi kemanusiaan di Palestina tetap mereka butuhkan dan penting untuk kita sampaikan, namun jauh lebih mendasar adalah bagaimana menghentikan pendudukan dan perang di atas tanah itu. Dalam perspektif tersebut maka perlu kita mendorong masyarakat internasional dan PBB untuk mengakui kedaulatan Palestina sebagai bangsa merdeka agar mereka bisa memulai kehidupan yang layak sebagaimana umat manusia di belahan bumi yang lain. Tentu saja pembicaraan ke arah sana akan sangat panjang, penuh emosi dan sangat melelahkan tetapi harus dimulai.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberi komentar