Monday, March 26, 2012

Dari Pekanbaru Menuju Dumai Lewat Duri

Gambar: www.google.co.id
Mungkin pembaca (dan sebenarnya saya juga) bingung dengan judul ini. Tapi mungkin inilah judul tepat (mungkin karena saya tidak mendapatkan judul yang lebih pas) untuk perjalanan saya Bulan September tahun 2011 ke Propinsi Riau. Saya tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru sekitar pukul 07.15 pagi tanggal 18 November 2011. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota ini. Bahkan ini baru kota kedua di Pulau Sumatera yang pernah saya datangi setelah Lampung 4 bulan sebelumnya.


Cuaca sedikit berawan bahkan gerimis mulai membasahi bandara "kecil" di Propinsi Riau itu. Ada yang unik menurut saya, yaitu tempat menunggu bagasi yang masih jadul (:P). Kalau kita terlambat mengambil bagasi kita maka barang itu akan terdorong dan jatuh ke lantai. Untuk meninggalkan bandara, kita bisa memilih beberapa moda transportasi walaupun tidak selengkap di Jakarta. Saya memilih taksi dengan terlebih dahulu membeli karcis di Bandara  sehingga tidak perlu transaksi tawar-menawar dengan supir. Biayanya cukup standar, Rp. 50.000,-. Saya jadi bingung saat ditanya oleh penjual karcis: "Mau kemana?". Wah, saya sempat bengong juga saat ditanya mau kemana. Sesungguhnya saya akan ke Dumai yang katanya harus menempuh 6 jam perjalanan dari Pekanbaru. Tidak mungin naik taksi dengan jarak sejauh itu. Akhirnya saya minta untuk diantar ke PO travel  Pekanbaru - Dumai yang paling dekat dengan Bandara. 50ribu melayang!.

Saya masih mempunyai waktu yang cukup karena avansa yang akan saya tumpangi ke Dumai baru akan berangkat jam 2 siang. Alhasil masih ada beberapa jam nongkrong di Sekretariat GMKI Pekanbaru sebelum dijemput oleh mobil "travel". Saudara Jefri dari GMKI Pekanbaru menjemput saya setelah sebelumnya saya mengontak mereka.


Pukul 12 mobil penjemput sudah datang (2 jam dari seharusnya). Saya sempat protes kecil tapi rasanya ada untungnya juga kalau saya segera berangkat. Perjalanan darat ke Dumai ternyata melewati banyak sekali fenomena kebiadaban kapitalisme. Sepanjang jalan, perkebunan kelapa sawit milik perusahaan besar menjadi pemandangan di jam-jam pertama. Saya mulai berpikir mengapa tanah yang ditanami kelapa sawit ini tidak didistribusikan secara adil kepada petani. Apakah jika pemilik perusahaan itu tidak menguasai mayoritas tanah ini maka dia akan jatuh miskin?. Sangat tragis nasib penduduk dan masyarakat lokal bahkan mereka harus merasakan peningkatan suhu udara di siang haris secara ekstrim akibat perkebunan itu (kesaksian beberapa penduduk yang iseng saya tanyai di Dumai). sekitar 3 jam berlalu, mulailah kami memasuki jalan rusak yang sangat parah. Jalur angkutan manusia digabung dengan jalur truk dengan tonase tinggi membuat jalan berombak. Di beberapa titik lebih tepat disebut lubang dari pada jalan berombak. Seorang wanita hamil mungkin harus mengalami keguguran jika melewati jalan ini. Kondisi inilah yang perusahaan berikan kepada rakyat. Inikah yang disebut adil oleh negara?.

Satu jam sebelum tiba di Dumai, kami harus melewati kota Duri. Di kota ini terdapat sumur minyak milik perusahaan Amerika, Chevron. Hadirnya perusahaann bonafit berkelas dunia ternyata tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat Duri. Jalan  poros masih berombak bahkan lebih parah. Trotoar di dalam kota dumai tampak kurang teratur. Beberapa tempat tidak ada pohon perindang sama sekali (beberapa diantaranya terdapat pohon yang masih kecil, kira-kira berumur 3 - 5 bulan). Chevron benar-benar hanya menyedot Sumber Daya Alam Indonesia. Mereka berselingkuh dengan beberapa penghianat negara.
Kebun Kelapa Sawit yang luas hanya dikuasai segelintir orang
(gambar dari google.com)
Memasuki kota Dumai, ternyata setali tiga uang. Seluruh "Malapetaka" yang saya uraikan ada di Dumai dan masih ditambah dengan "neraka" baru yaitu Banjir. Chevron  dan banyak perusahaan lainnya yang beroperasi di Kota Dumai tidak melihat persoalan banjir tahunan di Dumai sebagai tanggungjawab sosial mereka.

Dari Pekanbaru menuju Dumai memang harus melewati kota Duri. Tetapi sepanjang perjalanan kita hanya akan melihat kontrasnya kekayaan alam kita dengan kesejahteraan rakyat. Kita hanya akan melihat ketidakadilan. Poros Pekanbaru-Duri-Dumai adalah potret pengelolaan kekayaan alam Indonesia yang keliru. Kemerdekaan politik yang kita rebut tahun 1945 ternyata belum menjamin kemerdekaan ekonomi. Kita mempunyai presiden, punya negara, punya teritori dan punya sumberdaya alam melimpah. Tetapi kita tidak mempunyai kedaulatan dan kemandirian penuh atas potensi-potensi tersebut.

Dengan kondisi ini, apa yang harus kita lakukan?

Waduhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh....................!!!!!!!!!!!!, saya jadi lupa bahwa yang ingin saya ceritakan sebenarnya adalah tentang kegiatan kami di Dumai selama 4 hari bersama teman-teman GMKI wilayah 1 dan 13. Emosi saya mengantar ke alam pikiran yang berontak mengingat perjalanan 6 jam Pekanbaru - Dumai. Mungkin kegiatan yang saya maksud akan saya ceritakan dalam catatan yang lain.

Salam


1 comment:

  1. nah begitulah faktanya,, duri ku sayang duri ku malang,.

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberi komentar